81 Tahun TNI: Tapen dan Jejak Perjuangan yang Tak Boleh Hilang
Tugu di Senori yang menjadi tempat gugurnya pahlawan Letda Soetjipto

Reporter: Edy Purnomo

TUBAN, blokTuban.com — Dini hari 23 Februari 1949, pasukan Letda Soetjipto bergerak menyongsong kedatangan pasukan Belanda dari arah barat daya Tapen, Senori. Mereka telah melalui hari-hari panjang dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, beristirahat di rumah penduduk, menyusun kekuatan dan menunggu kesempatan untuk menghadang pasukan Belanda.

Pagi itu, kesempatan tersebut datang bersamaan dengan bergeraknya pasukan Belanda memasuki wilayah Senori.

Arsip blokTuban.com yang ditulis berdasarkan kesaksian Moh Jokomulyono, anggota TGP yang pernah berada di bawah komando Letda Soetjipto, mencatat bahwa pertempuran sengit kemudian terjadi di kawasan Tapen. Jokomulyono sendiri merupakan salah satu saksi yang berada dalam rangkaian perjuangan tersebut.

Pertempuran Tapen menjadi bagian dari rangkaian panjang perlawanan yang berlangsung di Tuban selama Agresi Militer Belanda II.

Sebelumnya, para pejuang telah membangun pos pertahanan di berbagai tempat dan berusaha menghambat pergerakan Belanda. Di Jatigembol, misalnya, mereka membuat pos untuk mengganggu pasukan Belanda yang bergerak menuju Montong. Ketika tidak mungkin menghadapi lawan secara terbuka, strategi gerilya menjadi pilihan.

Perjuangan tersebut juga berlangsung dalam kondisi yang jauh dari nyaman. Catatan kesaksian Jokomulyono menggambarkan bagaimana para anggota pasukan beristirahat dengan perlengkapan seadanya dan bergerak pada malam hari ketika hujan turun. Rumah penduduk menjadi salah satu tempat mereka berhenti dan menyusun kekuatan.

Di sisi lain, pemerintahan Tuban juga menghadapi tekanan akibat pendudukan Belanda. Arsip blokTuban mencatat bahwa setelah wilayah pemerintahan terdesak, pusat pemerintahan Tuban ditarik ke Jatirogo, setelah sebelumnya bertahan dan bertempur di wilayah Talangkembar.

Rangkaian cerita itu menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Tuban berlangsung di banyak tempat dan melibatkan banyak lapisan masyarakat. Ada pasukan yang bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain, ada warga yang rumahnya menjadi tempat beristirahat para pejuang, dan ada pemerintahan yang harus berpindah agar tetap dapat berjalan di tengah tekanan militer.

Delapan puluh satu tahun setelah TNI berdiri, nama-nama tempat tersebut mungkin terdengar biasa bagi generasi sekarang. Glondong adalah kawasan pantai, Jatigembol merupakan bagian dari Merakurak, Saringembat berada di Singgahan, sedangkan Tapen berada di Senori.

Namun bagi sejarah Tuban, nama-nama itu bukan sekadar nama tempat.

Di sanalah pernah berlangsung bagian dari perjuangan mempertahankan Republik Indonesia.

Karena itu, memperingati HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober 2026 dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali sejarah pertahanan dari perspektif daerah. Sejarah nasional tidak selalu berlangsung jauh di Jakarta atau kota-kota besar. Sebagian di antaranya berlangsung di jalan desa, rumah warga, pantai, perkebunan, kawasan pengeboran minyak dan tempat-tempat yang hari ini mungkin tidak lagi tampak seperti medan perang.

Arsip-arsip lokal menjadi penting karena dari sanalah cerita tersebut dapat ditemukan kembali.

blokTuban sendiri pernah menerbitkan rangkaian panjang Serpihan Agresi Militer Belanda II di Tuban-Bojonegoro pada 2017, termasuk kisah Letda Soetjipto dan berbagai lokasi pertempuran. Sebelumnya, pada 2016, blokTuban juga menerbitkan seri tentang Agresi Militer Belanda dan perlawanan Letda Soetjipto.

Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, cerita tersebut layak dibaca kembali.

Bukan untuk menghidupkan kembali permusuhan terhadap masa lalu, melainkan untuk memastikan bahwa generasi yang menikmati kemerdekaan mengetahui bahwa kemerdekaan itu pernah dipertahankan dengan pengorbanan yang nyata.

Dan bagi Tuban, sebagian jejaknya masih dapat ditemukan.

Selesai.

Sumber utama: Arsip blokTuban.com, seri Agresi Militer Belanda dan Perlawanan Heroik Letda Soetjipto (2016) dan Serpihan Agresi Militer Belanda II di Tuban-Bojonegoro (2017), dengan rujukan antara lain dokumen Dewan Harian Cabang Angkatan 45 Kabupaten Tuban dan buku Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe (1985).