Reporter: Nidhomatum R
JAKARTA, blokTuban.com – Tantangan industri media di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) bukan sekadar kehilangan audiens, melainkan kegagalan menangkap nilai ekonomi dari perhatian publik. Padahal, Indonesia memiliki pasar digital yang besar dan terus berkembang.
Hal itu disampaikan Ketua Komisi Digital dan Keberlanjutan Dewan Pers, Dahlan Dahi, dalam sesi AI and Publishers: The New Challenges, More Productive, But More Fragile pada Local Media Summit 2026 di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
“Kemampuan kita meng-capture value menurun, padahal market besar. Ini menjadi tantangan kita,” ujar Dahlan saat membahas perubahan ekosistem media dan model bisnis penerbitan.
Dalam presentasinya, Dahlan memaparkan besarnya potensi pasar digital Indonesia. Data yang ditampilkan mencakup sekitar 286 juta penduduk, 230 juta pengguna internet, 180 juta identitas pengguna media sosial, serta nilai pasar iklan internet mencapai US$10,7 miliar.
Namun, besarnya pasar tersebut tidak otomatis menjamin keberlanjutan bisnis perusahaan pers. Perubahan perilaku audiens, penurunan trafik, dan pergeseran belanja iklan membuat penerbit perlu mengevaluasi strategi bisnisnya.
AI Mengubah Perilaku Audiens
Dahlan menyoroti perubahan cara masyarakat mencari dan mengakses informasi. Jika sebelumnya pengguna mencari informasi melalui Google, kemudian mengeklik tautan untuk membaca artikel di situs berita, kini mereka dapat memperoleh jawaban langsung melalui layanan berbasis AI.
“Dulu user mencari di Google, kemudian Google dikasih link, baru ke artikel. Tapi sekarang user ke AI, kemudian AI menjawab,” jelasnya.
Pergeseran tersebut menjadi tantangan bagi perusahaan media yang selama ini mengandalkan kunjungan ke situs sebagai salah satu sumber pendapatan. Ketika pengguna memperoleh informasi tanpa membuka artikel asli, peluang monetisasi melalui iklan digital ikut tertekan.
Kondisi ini juga mengubah persaingan dalam ekosistem pencarian informasi. Media tidak hanya menghadapi perubahan perilaku pembaca, tetapi juga perkembangan platform teknologi yang menjadi perantara antara penerbit dan audiens.
Karena itu, menurut Dahlan, perusahaan pers perlu mencari cara baru agar tetap relevan sekaligus mampu memperoleh nilai ekonomi dari produk jurnalistik yang dihasilkan.
Keberlanjutan Media Berkaitan dengan Demokrasi
Tekanan bisnis media tidak hanya berdampak pada perusahaan dan pekerja pers, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas kehidupan demokrasi.
“Ketika jurnalisme dalam masalah, yang bermasalah adalah masyarakat. Ini ancaman bagi demokrasi, serta ancaman bagi negara dan bangsa,” tegasnya.
Dalam presentasinya, Dahlan turut menampilkan data mengenai pemutusan hubungan kerja di industri pers. Lebih dari 1.200 pekerja perusahaan pers disebut kehilangan pekerjaan pada periode 2023–2024.
Ia juga menyinggung sejumlah media yang menghentikan penerbitan atau menutup produk tertentu, termasuk Gatra, Koran Sindo, dan Republika edisi cetak.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak cukup dilakukan dengan mengadopsi teknologi baru. Perusahaan media juga perlu membangun model bisnis yang mampu membiayai kerja jurnalistik secara berkelanjutan.
Bagi Dahlan, keberlanjutan ekonomi merupakan salah satu prasyarat agar jurnalisme dapat menjalankan fungsi publiknya, termasuk menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat dan menjaga kekuasaan tetap akuntabel.
Inovasi dan Diversifikasi Bisnis
Menghadapi perubahan tersebut, Dahlan menekankan pentingnya inovasi yang mencakup empat aspek, yakni inovasi, produk, audiens, dan periklanan.
Pemanfaatan AI menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan produktivitas kerja jurnalistik. Teknologi ini dapat membantu proses transkripsi, peringkasan dokumen, pemetaan topik, hingga produksi konten.
Selain meningkatkan efisiensi, AI membuka peluang pengembangan produk dan layanan baru. Perusahaan media dapat mengeksplorasi layanan berbasis pengetahuan, pemanfaatan data untuk memahami kebutuhan pembaca, serta produksi konten dalam berbagai format, seperti gambar, audio, dan video.
Penerbit juga perlu mempertimbangkan diversifikasi pendapatan melalui lisensi konten, layanan berlangganan, dan produk lain yang sesuai dengan kebutuhan audiens.
Di sisi lain, pemahaman terhadap karakter pembaca menjadi semakin penting. Media perlu membangun hubungan langsung dengan komunitasnya serta menghadirkan produk jurnalistik yang memiliki relevansi dan nilai tambah.
Ketergantungan pada trafik dan iklan digital juga perlu dievaluasi. Ketika kunjungan ke situs mengalami penurunan, perusahaan pers harus menguji kembali efektivitas model pendapatan yang selama ini digunakan dan mencari alternatif yang lebih beragam.
Dahlan memandang perubahan tersebut sebagai new normal yang menuntut perusahaan media beradaptasi, bukan sekadar menunggu trafik kembali seperti sebelumnya.
Menangkap Nilai dari Kepercayaan Publik
Pesan utama Dahlan dalam Local Media Summit 2026 menegaskan bahwa besarnya pasar digital tidak dengan sendirinya menjamin keberlanjutan perusahaan pers.
Tantangan media ke depan adalah mengubah perhatian dan kepercayaan audiens menjadi nilai ekonomi yang dapat menopang produksi jurnalistik. Upaya tersebut membutuhkan inovasi produk, pemahaman terhadap kebutuhan pembaca, serta model bisnis yang tidak bergantung pada satu sumber pendapatan.
Pemanfaatan AI juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi transformasi perusahaan, baik untuk meningkatkan produktivitas maupun mengembangkan layanan baru, tanpa mengabaikan prinsip dasar jurnalisme.
Dengan demikian, masa depan media tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjangkau audiens, tetapi juga oleh kemampuan menciptakan nilai dari hubungan yang dibangun dengan publik sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi jurnalisme.