Edy Purnomo
Media Researcher at blokTuban.com
TUBAN, blokTuban.com - Pada 23 Maret 2026 saya sengaja melempar sebuah pertanyaan di kolom komentar sebuah akun yang sedang membahas slow living.
Bukan survei. Bukan kuesioner. Tidak ada Google Form, apalagi SPSS.
Saya hanya ingin melihat satu hal: ketika orang berbicara tentang slow living, sebenarnya apa yang mereka maksud?
Saya biarkan pertanyaan itu berkembang menjadi percakapan. Puluhan komentar kemudian, muncul berbagai jawaban, pengalaman, dan sudut pandang yang berbeda. Dari percakapan itulah saya mulai mencoba memetakan pola.
Hasilnya cukup menarik dan saya simpulkan pada Selasa (29/9/2026) hari ini.
Ternyata, slow living tidak sesederhana tinggal di desa, punya rumah dengan halaman luas, kemudian hidup menjadi tenang.
Pertama, soal uang.
Banyak yang melihat slow living sebagai sesuatu yang membutuhkan fondasi finansial. Sebab kalau penghasilan pas-pasan, kemudian kita mengurangi pekerjaan dengan alasan ingin hidup lebih pelan, masalahnya bukan lagi slow living. Bisa jadi slow income.
Kita ingin hidup lebih santai, tetapi kebutuhan tetap berjalan. Tagihan tidak ikut slow. Cicilan tidak ikut slow. Biaya sekolah anak juga tidak ikut slow.
Dari sini muncul pandangan bahwa slow living dalam kondisi tertentu membutuhkan tabungan, aset, usaha yang sudah berjalan, warisan, dana pensiun, atau sumber pendapatan yang tidak sepenuhnya bergantung pada waktu kerja kita. Artinya, ada dimensi ekonomi yang tidak bisa dilepaskan dari pembicaraan tentang slow living.
Kedua, soal desa dan kota.
Banyak orang membayangkan slow living sebagai kehidupan di desa: rumah di tengah sawah, udara lebih segar, pagi melihat tanaman, sore minum kopi. Kelihatannya tenang.
Tetapi komentar-komentar yang muncul justru mengingatkan bahwa kehidupan desa juga punya realitas sendiri. Ada pekerjaan fisik, cuaca, hama, akses internet, jarak, biaya pengiriman, fasilitas yang tidak selalu tersedia, hingga kehidupan sosial.
Di desa, privasi bisa memiliki definisi yang berbeda. CCTV tetangga kadang lebih aktif daripada CCTV asli.
Ini tentu bukan berarti desa tidak nyaman. Justru sebaliknya, kehidupan desa punya banyak kelebihan. Tetapi kita tidak bisa hanya memindahkan bayangan kehidupan kota ke latar pedesaan lalu menyebutnya slow living.
Bisa jadi kita hanya membawa kehidupan kota ke rumah baru. Bedanya, sekarang latarnya sawah.
Ketiga, soal pikiran.
Ini yang menurut saya paling menarik. Slow living juga banyak dibicarakan sebagai persoalan bagaimana kita mengatur keinginan, pekerjaan, waktu, dan pikiran.
Rumah yang berada di desa tidak otomatis membuat hidup menjadi tenang.
Rumahnya slow. Pikirannya belum tentu.
Sebaliknya, orang yang tinggal di kota juga belum tentu hidup dengan ritme yang selalu terburu-buru. Seseorang bisa tinggal di tengah kota, bekerja cukup sibuk, tetapi tetap mempunyai kendali atas waktunya, tahu apa yang ingin dikejar, dan tahu kapan harus berhenti.
Dari percakapan yang dimulai pada 23 Maret itu, saya akhirnya melihat setidaknya tiga cara orang memahami slow living: dari sisi finansial, dari perbedaan kehidupan kota dan desa, serta dari mindset dan kemampuan mengendalikan hidup.
Tentu saja, ini bukan survei yang bisa mewakili masyarakat secara keseluruhan. Ini hanya percakapan kecil di media sosial. Tetapi justru di situlah menariknya. Sebuah pertanyaan sederhana ternyata bisa membuka cara orang melihat kehidupannya sendiri.
Dan mungkin pertanyaan tentang slow living sebenarnya bukan hanya, “Bagaimana caranya hidup lebih pelan?”
Tetapi, “Seberapa besar kendali kita terhadap waktu, pekerjaan, uang, dan pikiran kita sendiri?”
Sebab untuk membahas hidup yang pelan saja, ternyata kita bisa menghasilkan diskusi yang cukup panjang.
Mungkin memang hidup tidak harus selalu dikejar. Tapi untuk bisa berjalan pelan, kita juga perlu tahu pijakan kita ada di mana.(Dy)