Reporter: Nidhomatum R
JAKARTA, blokTuban.com – Jumlah pengikut dan tayangan bukan lagi satu-satunya ukuran nilai sebuah media di tengah persaingan periklanan digital. Kemampuan memahami karakter audiens dan membaca perilaku pembaca menjadi faktor penting untuk menawarkan inventori iklan yang relevan kepada pengiklan.
Hal tersebut disampaikan CEO sekaligus Co-Founder Props, Ilona Juwita, dalam sesi Beyond Media Advertising: Membongkar Model Bisnis & Revenue Alternatif pada Local Media Summit (LMS) 2026 di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
“Jadi jualannya adalah followers, pengikut, dan sinyal-sinyal,” ujar Ilona, merujuk pada pentingnya basis audiens dan data yang menggambarkan karakter serta perilaku mereka.
Menurut materi presentasi Props, pengiklan semakin mempertimbangkan kesesuaian audiens dengan sasaran kampanye. Karena itu, media perlu memahami siapa pembacanya, konten yang diminati, serta pola interaksi mereka.
Jumlah pengikut dan tayangan tetap menjadi indikator jangkauan. Namun, informasi mengenai karakter dan minat audiens dapat membantu penerbit menunjukkan nilai lebih dari ruang iklan yang ditawarkan.
Tanpa pemahaman tersebut, inventori iklan berisiko diperlakukan sebagai ruang promosi generik. Sebaliknya, data audiens yang relevan dapat menjadi dasar bagi media untuk menyusun penawaran komersial yang lebih terarah.
Materi Props juga menyoroti pergeseran pengelolaan data, dari pendekatan yang banyak mengandalkan browser cookies menuju strategi yang lebih berorientasi pada hubungan langsung dengan audiens.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan penerbit adalah Customer Data Platform (CDP), yakni sistem untuk mengintegrasikan data pelanggan atau pembaca dari berbagai titik interaksi. Penerapannya dapat mendukung pemahaman terhadap perilaku audiens, termasuk melalui keanggotaan dan aktivitas pembaca di berbagai perangkat, dengan tetap memperhatikan persetujuan serta ketentuan privasi.
Bagi media, pendekatan tersebut memperkuat pentingnya membangun hubungan langsung dengan pembaca. Ketika distribusi konten bergantung pada platform pihak ketiga, hubungan langsung membantu penerbit mengenali kebutuhan audiens dan mengurangi ketergantungan pada perubahan algoritma.
Meski demikian, pemanfaatan data harus tetap mengutamakan privasi dan kepercayaan pembaca. Pengumpulan maupun penggunaan informasi audiens perlu dilakukan secara bertanggung jawab agar upaya monetisasi tidak mengorbankan hubungan media dengan komunitasnya.
Google News Initiative Dorong Pertumbuhan Penerbit
Dalam forum yang sama, News Partner Manager Google untuk Indonesia, Filipina, dan Bangladesh, Yos Kusuma, memaparkan program pengembangan penerbit melalui Google News Initiative (GNI).
Berdasarkan materi presentasi, terdapat dua inisiatif yang dijalankan di Indonesia pada 2025, yakni Project Sigma: Engaging Gen Z Audiences dan Revenue Growth Lab: Enabling Sustainable Publisher Growth. Kedua program tersebut disebut melibatkan 22 penerbit dari berbagai latar belakang media.
Project Sigma diarahkan untuk membantu penerbit menjangkau audiens Generasi Z melalui eksperimen format konten, seperti video pendek, podcast, dan konten dialog interaktif.
Sementara itu, Revenue Growth Lab berfokus pada penguatan periklanan digital, pendapatan dari pembaca, dan keterlibatan audiens.
Kedua inisiatif tersebut menunjukkan pentingnya eksperimen dalam pengembangan bisnis media. Penerbit perlu menguji format konten, mengukur respons pembaca, dan menyesuaikan produk dengan perubahan perilaku audiens.
Bagi media lokal, pemahaman terhadap karakter pembaca dapat menjadi modal untuk memperkuat posisi di pasar periklanan digital. Data yang terukur membantu penerbit menjelaskan nilai audiens kepada calon pengiklan, bukan sekadar menawarkan jumlah tayangan.
Upaya tersebut perlu ditopang kualitas jurnalistik, konsistensi distribusi konten, dan hubungan yang terjaga dengan komunitas pembaca. Pemahaman audiens juga dapat menjadi dasar pengembangan produk yang relevan bagi pembaca sekaligus memiliki nilai komersial.
Pada akhirnya, data audiens bukan sekadar angka dalam laporan analitik. Jika dikelola secara bertanggung jawab, data dapat membantu media mengambil keputusan bisnis yang lebih tepat, mengembangkan penawaran iklan, dan membangun model pendapatan yang lebih berkelanjutan.