Oleh : Sri Wiyono
blokTuban.com - ‘’Apakah kalian pernah merasakan perihnya asap putih gas air mata yang mampir ke netra ? Apakah kalian pernah merasakan pedihnya belaian tongkat rotan Pasukan anti Huru-Hara di punggung kalian? Apakah kalian pernah merasakan kuatnya hempasan air dari mobil Water Canon yang menahan langkah maju kalian, dan memaksa barisan kocar-kacir? Jika belum, cemen !! Kalian belum lengkap menjadi seorang aktivis. Maka lain kali layak dicoba !!’’
Suara pengisi sesi materi dalam sebuah ruang kegiatan pengkaderan organisasi esktra kampus itu terdengar mantap. Gemanya mengisi seluruh sudut ruang pengkaderan. Melesat, dan menembus jantung para peserta pengkaderan.
Jantung peserta pengkaderan yang rerata mahasiswa dengan semangat belajar tinggi itu berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Bukan takut, tapi dimasuki semangat baru, pengalaman baru dan pertanyaan-pertanyaan dan angan baru. Selebihnya, mereka kaget dengan suara narasumber yang menggelegar tanpa dibuat-buat.
Maka, kalimat demi kalimat kemudian teruntai dengan rapi. Kalimat berisi dorongan, bahkan paksaan agar otak bekerja lebih keras untuk memahami situasi di masyarakat terus berkembang. Kalimat-kalimat ‘ngompori’ terus mengalir. Seolah sang narasumber sedang mentransfer pengalaman dan semangatnya dulu pada adik-adik ideologisnya itu.
Ia berapi-api menyampaikan analisis kondisi sosial kemasyakatan, tak ketinggalan situasi politik dan ekonomi yang tiap detik menghadirkan keterkejutan-keterkejutan di masyarakat.
‘’Kalian harus berani bersuara. Sebab, pemuda tanpa keberanian adalah ternak belaka,’’ tutup sang pemateri, mengutip salah kata heroik milik sastrawan Pramoedya Ananta Toer (Pram), sastrawan kritis asal Blora, Jawa Tengah yang buku-bukunya banyak digandrungi kalangan mahasiswa.
Bagi yang pernah menjadi mahasiswa di era 1997-1998 an, terutama yang menyebut dirinya aktivis, kalimat-kalimat Sang pemateri pengkaderan di atas bukan omong kosong. Bukan bualan seorang senior di depan juniornya agar terlihat hebat. Itu adalah fakta, sejarah dan kisah yang tak boleh dilupakan.
Bahwa di negeri ini pernah ada masa di mana keadaan chaos, terjadi gelombang demonstrasi mahasiswa di seluruh negeri. Dan, puncaknya terjadi di Ibu Kota pada 18-19 Mei 1998, ribuan mahasiswa menduduki gedung DPR RI selama dua hari itu untuk menuntut presiden mundur. Maka, dua hari kemudian pada 21 Mei 1998 Presiden Suharto menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya.
Itulah masa tumbangnya Orde Baru dengan Presiden Suharto sebagai simbol kekuasaannya. Dan, era baru yang disebut era reformasi dimulai. Cita-cita reformasi di antaranya adalah adanya pemerintahan yang bersih dan adil, bebas kolusi, korupsi dan nepotisme serta memberikan rakyat kebebasan berekspresi.
Apakah hari ini sebagian cita-cita reformasi itu sudah dijalankan, apakah sudah tercapai, atau bahkan bayangan rezim lama yang dulu menjadi musuh bersama itu kembali hadir? Anda bisa menilainya sendiri.
Akhir-akhir ini masyarakat sudah dibuat bising dengan berita-berita yang menyakitkan, meski tanpa keterkejutan. Salah satunya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah dituding sebagai sarang korupsi baru. Bahkan, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, Tiyo Ardianto memelesetkan MBG sebagai Maling Berkedok Gizi.
Jika kemudian terungkap para pentolan program MBG ditangkap karena terungkap melakukan korupsi, rakyat sudah tidak terkejut. Karena sudah menduga sejak lama, dan seolah hanya menunggu waktu.
Lalu, deretan nama hingga puluhan orang yang diduga terlibat menyusul muncul. Lagi-lagi rakyat tidak terkejut dengan masuknya nama-nama petinggi dan mantan petinggi TNI/Polri, pejabat pemerintah, anggota DPR/DPRD dan pengusaha yang terlibat.
Dari berita-berita yang tayang, baik di media mainstream maupun media sosial, diketahui betapa gaduhnya negeri ini. Betapa mudahnya para pemimpin memberikan statemen atau pernyataan yang menggelikan. Seolah-olah rakyat negeri ini semuanya bodoh, hingga mudah menerima kalimat-kalimat pembodohan.
Masih hangat pernyataan Menteri ESDM Bahlil yang menyatakan dan menjamin harga BBM tidak akan naik setidaknya sampai akhir 2026, ee..tetiba harga BBM naik. Apakah Bahlil lupa penyataannya dicatat oleh tinta jurnalis dan disiarkan dalam bentuk berita. Apakah Bahlil lupa jejak digital itu sulit dihilangkan?
Lalu, muncul lali statemen dari Ketua DPR RI Puan Maharani yang memastikan RUU Perampasan Aset tidak dibahas tahun ini, dan bisa dibahas di tahun-tahun mendatang. Sedangkan rakyat sudah menanti-nanti. Di tengah maraknya korupsi, kolusi dan nepotisme di negeri ini, RUU Perampasan Aset menjadi sebuah harapan , dan berharap segera menjadi UU.
Namun, harapan itu sirna begitu saja. Rakyat memendam rasa sakit, rasa marah, gemas dengan lucunya para wakilnya di pusat itu. Bahkan, seorang kawan di sebuah WA grup mengunggah potongan berita yang memuat pernyataan Ketua DPR RI itu. lalu dikasih komentar ; ‘’ Jenis pernyataan yang gurih untuk didugang cangkemnya,’’. Barangkali saking gemasnya melihat statemen yang ‘ndagel’ seperti itu.
Lalu di media sosial sejak beberapa hari terakhir ini mulai menampilkan sejumlah aksi mahasiswa di daerah. Bahkan, mulai muncul undangan untuk aksi turun jalan dari kampus-kampus besar di Ibu Kota. Di Kabupaten Tuban pun selama ini sudah sering terjadi aksi turun jalan dari aktivis mahasiswa yang mengkritisi kebijakan pemerintah lokal.
Saya yang pernah menjadi mahasiswa di masa-masa akhir Orde Baru, dan beberapakali ikut demo mahasiswa mendesak presiden turun kala itu, membayangkan masa-masa itu bakal terjadi lagi. Karena situasi saat ini sudah mirip masa-masa itu. Atau saya yang terlalu berlebihan, atau istilah anak muda sekarang terlalu baper dengan keadaan? Entah lah. Lalu, pada situasi saat ini, apakah mahasiswa harus kembali turun jalan? Wallahu a’lam.
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published