Tuban Talent Hub dan Tantangan Menghadirkan Teknologi yang Memanusiakan (2)
Ilustrasi by AI/bloktubancom

Penulis: Edy Purnomo*

blokTuban.com - Bagaimana gagasan Technology for Humanity diterapkan dalam pengembangan talenta digital di daerah?

Pertanyaan ini penting karena kebutuhan terhadap keterampilan digital terus meningkat. Dunia usaha membutuhkan tenaga kerja yang mampu beradaptasi dengan teknologi. Lembaga pendidikan dituntut mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan. Sementara itu, pemerintah dan masyarakat menghadapi beragam persoalan yang membutuhkan pengetahuan, kolaborasi, dan pendekatan baru.

Di Kabupaten Tuban, tantangan tersebut dapat menjadi peluang untuk mempertemukan potensi generasi muda dengan kebutuhan daerah.

Pengembangan talenta digital tidak cukup berhenti pada pelatihan, seminar, atau pengenalan teknologi terbaru. Perlu ada ruang yang memungkinkan anak muda belajar secara berkelanjutan, bertemu dengan berbagai pihak, dan menguji kemampuan mereka melalui persoalan nyata.

Dari kebutuhan tersebut, Tuban Talent Hub dapat dikembangkan sebagai ekosistem pengembangan talenta digital yang berpijak pada gagasan Technology for Humanity.

Landasan ini penting agar pengembangan teknologi tidak sekadar menghasilkan orang-orang yang mahir menggunakan perangkat, tetapi juga generasi yang mampu memahami persoalan, menilai kebutuhan, dan menentukan solusi yang bermanfaat bagi manusia.

Technology for Humanity sebagai Kompas Tuban Talent Hub

Sebelum membicarakan program, pelatihan, atau fasilitas, ada satu hal yang perlu ditegaskan: pengembangan Tuban Talent Hub harus berangkat dari cara pandang yang jelas terhadap teknologi dan manusia.

Technology for Humanity bukan sekadar slogan yang ditempelkan pada sebuah program digital. Gagasan ini perlu menjadi landasan berpikir sekaligus kompas dalam menentukan arah kegiatan, memilih persoalan yang akan ditangani, dan menilai hasil yang dicapai.

Artinya, keberhasilan pengembangan talenta tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan, banyaknya keterampilan yang diajarkan, atau jumlah produk digital yang dihasilkan.

Hal yang lebih penting adalah apakah proses tersebut membantu generasi muda memahami kebutuhan masyarakat, menggunakan pengetahuan secara kritis, dan menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan.

Titik awalnya bukan teknologi apa yang ingin diperkenalkan, melainkan persoalan manusia apa yang perlu dipahami dan diselesaikan.

Jika sebuah desa memiliki potensi ekonomi yang belum berkembang, misalnya, anak muda dapat mempelajari kondisi usaha, akses pasar, karakter konsumen, dan kendala yang dihadapi pelaku usaha. Setelah memahami persoalannya, mereka dapat mempertimbangkan apakah pemasaran digital, pengolahan data, atau teknologi lainnya relevan untuk digunakan.

Jika persoalannya berkaitan dengan pendidikan, mereka perlu memahami kebutuhan siswa, guru, dan orang tua sebelum merancang solusi.

Dengan pendekatan tersebut, teknologi tidak digunakan hanya karena sedang populer. Pemanfaatannya didasarkan pada kebutuhan, konteks, dan kemungkinan manfaatnya.

Inilah landasan yang membedakan pengembangan talenta digital yang sekadar berorientasi pada keterampilan teknis dengan pengembangan talenta yang berorientasi pada manusia.

Tuban Talent Hub sebagai Ekosistem, Bukan Sekadar Tempat Pelatihan

Tuban Talent Hub dapat dibayangkan sebagai ruang yang mempertemukan tiga unsur utama: pengembangan talenta, jaringan kolaborasi, dan ruang untuk belajar serta menghasilkan karya.

Unsur pertama adalah pengembangan talenta. Anak muda perlu memperoleh kesempatan mempelajari keterampilan digital, mulai dari produksi konten, desain, pemasaran digital, pengolahan data, hingga pemanfaatan AI sesuai kebutuhan.

Namun, proses belajar tidak berhenti pada penguasaan perangkat. Mereka juga perlu berlatih melakukan riset sederhana, memahami kebutuhan pengguna, menyusun argumentasi, bekerja dalam tim, dan mengevaluasi hasil pekerjaan.

Unsur kedua adalah jaringan. Talenta muda membutuhkan akses terhadap mentor, praktisi, pelaku usaha, akademisi, komunitas, pemerintah, dan berbagai pihak yang memiliki pengetahuan maupun pengalaman.

Jaringan ini penting karena proses belajar akan lebih bermakna ketika peserta dapat berinteraksi dengan orang-orang yang menghadapi persoalan nyata di lapangan.

Unsur ketiga adalah ruang. Pengembangan talenta membutuhkan tempat untuk berdiskusi, mencoba gagasan, bekerja bersama, melakukan eksperimen, dan mempresentasikan hasil. Ruang tersebut tidak harus selalu berupa bangunan khusus. Pada tahap awal, sekolah, kampus, ruang komunitas, studio, atau tempat kerja bersama dapat menjadi bagian dari ekosistem.

Ketiga unsur tersebut saling melengkapi. Keterampilan tanpa jaringan dapat membatasi kesempatan. Jaringan tanpa proses belajar tidak cukup membangun kapasitas. Sementara itu, ruang tanpa persoalan dan aktivitas yang bermakna hanya akan menjadi fasilitas.

Tuban Talent Hub perlu menghubungkan ketiganya dalam proses yang berkelanjutan.

Mempertemukan Talenta dengan Persoalan Lokal

Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah menjadikan persoalan di Kabupaten Tuban sebagai ruang belajar bagi generasi muda.

Pelajar dari berbagai sekolah, termasuk SMK, dapat dipertemukan dalam tim lintas sekolah untuk mempelajari isu tertentu. Mereka tidak harus memulai dengan membuat aplikasi atau produk digital. Langkah pertama justru memahami persoalan yang hendak ditangani.

Misalnya, sebuah tim ingin membantu pelaku UMKM memperluas pasar. Sebelum merancang strategi digital, mereka perlu berbicara dengan pelaku usaha, mengamati proses penjualan, mempelajari karakter pelanggan, dan mengidentifikasi hambatan yang paling mendesak.

Tim lain mungkin tertarik pada potensi desa, akses informasi pendidikan, pengelolaan lingkungan, atau pengembangan kegiatan ekonomi berbasis komunitas.

Setiap persoalan membutuhkan cara kerja yang berbeda. Ada yang dapat dibantu melalui teknologi digital, ada yang membutuhkan pendampingan, dan ada pula yang memerlukan kerja sama dengan lembaga atau pemangku kepentingan.

Dalam proses ini, pelajar belajar memahami bahwa solusi yang baik tidak selalu merupakan solusi yang paling canggih.

Mereka juga belajar bahwa persoalan masyarakat tidak dapat dipahami hanya dari layar komputer. Observasi, percakapan, pemeriksaan data, dan keterlibatan pihak yang terdampak tetap dibutuhkan.

Pendekatan tersebut dapat mempertemukan dua kepentingan sekaligus: mengembangkan kemampuan generasi muda dan membantu masyarakat menemukan alternatif penyelesaian atas persoalan yang mereka hadapi.

Dengan demikian, pelajar tidak hanya menjadi peserta pelatihan. Mereka menjadi bagian dari proses belajar bersama masyarakat.

AI sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Proses Berpikir

Pemanfaatan AI menjadi bagian penting dari pengembangan talenta digital. Namun, penggunaannya perlu ditempatkan secara tepat.

AI dapat membantu peserta mencari alternatif gagasan, mengolah informasi awal, menyusun rancangan, atau mempercepat pekerjaan tertentu. Teknologi ini juga dapat menjadi sarana untuk mempelajari keterampilan baru.

Meski demikian, setiap hasil yang dihasilkan AI tetap perlu diperiksa. Informasi harus dibandingkan dengan sumber yang dapat dipercaya, asumsi perlu diuji, dan rekomendasi harus disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Peserta juga perlu memahami bahwa jawaban yang terdengar meyakinkan belum tentu benar atau sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Karena itu, proses belajar di Tuban Talent Hub sebaiknya tidak hanya menilai hasil akhir. Cara peserta mengidentifikasi masalah, memilih sumber, menggunakan teknologi, menguji informasi, dan menjelaskan alasan di balik keputusan juga perlu menjadi bagian dari evaluasi.

Jika sebuah tim menggunakan AI untuk menyusun strategi pemasaran, misalnya, mereka tetap harus memeriksa apakah rekomendasi tersebut sesuai dengan karakter usaha dan pelanggan yang dituju. Jika sebuah tim menggunakan AI untuk merancang layanan digital, mereka perlu memastikan bahwa calon pengguna dapat mengakses dan memanfaatkannya.

AI menjadi alat untuk memperluas kemampuan manusia, bukan alasan untuk menghilangkan proses memahami, mempertanyakan, dan mengambil keputusan.

Prinsip ini juga penting dalam pendidikan. Generasi muda perlu dibiasakan menggunakan teknologi dengan kesadaran bahwa kemampuan berpikir, kreativitas, dan tanggung jawab tidak dapat begitu saja diserahkan kepada mesin.

Dengan demikian, Tuban Talent Hub bukan hanya ruang untuk mengajarkan cara menggunakan AI. Hub juga dapat menjadi ruang untuk mempelajari batasan teknologi, menguji hasilnya, dan menentukan kapan penggunaannya benar-benar diperlukan.

Kolaborasi untuk Mengembangkan Talenta Tuban

Pengembangan ekosistem talenta digital tidak dapat dibebankan kepada satu lembaga.

Sekolah dan perguruan tinggi memiliki peran dalam membangun dasar pengetahuan dan keterampilan. Dunia usaha dapat membantu mengenalkan kebutuhan industri serta persoalan yang dihadapi pelaku ekonomi. Pemerintah dapat membuka akses terhadap data, program, dan isu pembangunan daerah. Komunitas menyediakan pengetahuan mengenai kondisi masyarakat, sedangkan praktisi dan mentor dapat berbagi pengalaman serta mendampingi proses belajar.

Media lokal juga dapat berperan sebagai penghubung. Melalui jaringan, publikasi, forum diskusi, dan kegiatan pendidikan, media dapat mempertemukan gagasan, memperluas akses pengetahuan, serta membuka ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan hasil kerja mereka kepada publik.

Dalam konteks ini, Tuban Talent Hub dapat menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan pihak-pihak tersebut dalam agenda yang lebih terarah.

Kolaborasi tidak cukup hanya diwujudkan melalui pertemuan atau penandatanganan kerja sama. Setiap pihak perlu memiliki ruang kontribusi yang jelas dan terlibat dalam proses yang menghasilkan manfaat bersama.

Pelajar memperoleh pengalaman dan keterampilan. Pelaku usaha atau komunitas memperoleh perspektif dan alternatif solusi. Mentor dapat berbagi pengetahuan. Sementara itu, daerah mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang memahami kondisi lokal.

Dengan demikian, ekosistem talenta tidak hanya berorientasi pada kebutuhan tenaga kerja, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk belajar dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.

Mengukur Keberhasilan dari Manfaatnya

Jika Tuban Talent Hub dibangun dengan landasan Technology for Humanity, ukuran keberhasilannya perlu mencerminkan landasan tersebut.

Jumlah peserta, pelatihan, mitra, dan produk yang dihasilkan tetap penting untuk dicatat. Namun, indikator tersebut belum cukup untuk menjelaskan apakah program benar-benar memberikan dampak.

Evaluasi juga perlu melihat perkembangan kemampuan peserta dalam memahami masalah, bekerja sama, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, dan menghasilkan solusi yang sesuai kebutuhan.

Produk yang dibuat perlu diuji. Apakah benar digunakan? Apakah membantu pengguna? Apakah mudah diakses? Apakah manfaatnya sebanding dengan biaya dan upaya yang dibutuhkan? Apakah ada risiko yang perlu diperbaiki?

Tidak semua proyek harus berakhir dengan aplikasi atau produk yang langsung diterapkan. Penelitian yang menunjukkan bahwa suatu teknologi tidak diperlukan untuk menyelesaikan persoalan tertentu pun dapat menjadi hasil pembelajaran yang berharga.

Hal terpenting adalah proses yang dilakukan menghasilkan pemahaman lebih baik, keputusan yang lebih tepat, atau manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ukuran tersebut membuat pengembangan talenta tidak berhenti pada aktivitas, tetapi bergerak menuju perubahan kapasitas dan manfaat nyata.

Membangun Masa Depan Digital dari Tuban

Tuban memiliki potensi untuk mengembangkan generasi muda yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memahami kebutuhan masyarakat dan berkontribusi bagi daerahnya.

Potensi itu membutuhkan ekosistem yang mempertemukan pendidikan, keterampilan, jaringan, kesempatan berkarya, dan persoalan nyata.

Tuban Talent Hub dapat mengambil peran dalam membangun ekosistem tersebut. Bukan sekadar menjadi tempat pelatihan teknologi, melainkan ruang bagi generasi muda untuk belajar, berkolaborasi, menguji gagasan, dan menemukan cara berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya.

Di atas semua itu, Technology for Humanity perlu tetap menjadi landasan berpikirnya.

Teknologi tidak harus selalu menjadi titik awal. Titik awalnya adalah manusia, kebutuhannya, dan persoalan yang ingin diselesaikan. Teknologi digunakan ketika relevan, dinilai berdasarkan manfaatnya, dan dikembangkan dengan tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan.

Dengan cara pandang tersebut, pengembangan talenta digital tidak hanya menghasilkan orang-orang yang mahir menggunakan perangkat. Lebih jauh, upaya ini diharapkan membentuk generasi yang mampu berpikir kritis, bekerja sama, memahami persoalan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Pada akhirnya, masa depan digital Tuban tidak cukup diukur dari seberapa cepat masyarakat mengadopsi teknologi baru. Masa depan itu juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat memastikan bahwa teknologi memperluas kesempatan, meningkatkan kapasitas manusia, dan membantu menghadirkan kehidupan yang lebih baik.

Teknologi seharusnya berkembang bersama manusia, bukan membuat manusia kehilangan kendali atas arah perkembangannya.

*Edy Purnomo, Direktur blokTuban.com, inisiator Tuban Digital Forum dan pegiat di lembaga riset satuSTRIP