Editor: Makmun
JAKARTA, blokSPORT – Empat tahun berlalu sejak Tragedi Kanjuruhan, tetapi peristiwa yang menewaskan 135 orang itu kembali menjadi bagian dari atmosfer pertandingan Timnas Indonesia.
Tepat pada 1 Oktober 2026, Timnas Indonesia dijadwalkan menghadapi Bangladesh dalam lanjutan Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.
Momentum tersebut mendapat perhatian khusus dari pelatih Timnas Indonesia, John Herdman. Pelatih asal Kanada itu meminta para pemainnya memberikan penghormatan kepada para korban melalui cara mereka menjalankan pertandingan.
“Penting bagi para pemain untuk tampil mewakili negara dengan cara yang benar besok, sekaligus memberi penghormatan bagi mereka yang kehilangan nyawanya (dalam tragedi Kanjuruhan),” kata Herdman.
Bagi Herdman, Kanjuruhan bukan sekadar catatan masa lalu. Ia mengaku sudah mengetahui tragedi tersebut ketika masih menangani Timnas Kanada.
Herdman juga menyampaikan satu pesan yang menjadi refleksi bagi sepak bola setelah tragedi tersebut.
“Jika kita lupa, kita tidak akan belajar,” ujar Herdman.
Pesan tersebut disampaikan ketika Timnas Indonesia tengah menghadapi pertandingan penting dalam persaingan Grup A. Hasil melawan Bangladesh akan menentukan posisi Indonesia dalam perebutan tiket ke babak berikutnya.
Indonesia juga menghadapi tantangan lain. Gelandang Thom Haye harus absen setelah menerima kartu merah ketika menghadapi Malaysia pada pertandingan sebelumnya.
Tanpa Haye, Herdman harus menyiapkan komposisi berbeda di lini tengah. Namun, perhatian utama tetap diarahkan kepada pertandingan melawan Bangladesh.
Laga Indonesia kontra Bangladesh akan berlangsung pukul 19.30 WIB di SUGBK. Pada waktu yang sama, Malaysia menghadapi Singapura.
Dua pertandingan tersebut menjadi penentu penting persaingan Grup A.
Namun bagi sepak bola Indonesia, tanggal 1 Oktober memiliki makna yang lebih luas dari sekadar pertandingan dan perolehan poin.
Empat tahun setelah Kanjuruhan, nama 135 korban kembali berada di sekitar panggung sepak bola nasional.
Dan melalui pesan Herdman, ada satu hal yang kembali diingatkan: sepak bola tidak hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ada peristiwa yang harus terus diingat agar kesalahan serupa tidak kembali terjadi.