Reporter: Mukmin
JAKARTA, blokTuban.com – Persaingan bisnis digital di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah peta pendapatan perusahaan teknologi global. Meta, perusahaan induk Instagram dan Facebook, mencatat pertumbuhan bisnis iklan lebih cepat dibandingkan Google.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Google yang selama ini mengandalkan mesin pencari sebagai salah satu sumber utama pendapatan. Perubahan perilaku pengguna internet yang mulai memanfaatkan chatbot AI untuk mencari informasi dinilai turut memengaruhi model bisnis periklanan konvensional.
Melansir situs berita CNBC, Senin (2/11/2026), pendapatan iklan Meta pada kuartal III 2026 tumbuh 26 persen secara tahunan menjadi 63,1 miliar dolar AS. Sementara itu, pendapatan bisnis pencarian Google hanya tumbuh 12 persen menjadi 63,4 miliar dolar AS.
Selisih pertumbuhan tersebut menjadi yang terbesar sejak 2021. Meski demikian, nilai pendapatan kedua perusahaan dari masing-masing lini bisnis tersebut masih relatif berimbang.
Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan Meta adalah pemanfaatan teknologi AI untuk meningkatkan efektivitas penargetan iklan. Teknologi tersebut membantu pengiklan menjangkau calon konsumen secara lebih tepat melalui platform seperti Instagram dan Facebook.
Peningkatan aktivitas pengguna di Instagram juga membuka peluang lebih besar bagi Meta untuk menampilkan iklan. Semakin lama pengguna menghabiskan waktu di platform tersebut, semakin besar pula peluang perusahaan memperoleh pendapatan dari iklan.
Sebaliknya, Google menghadapi tantangan dari perubahan cara masyarakat mencari informasi. Kehadiran chatbot AI seperti ChatGPT dan Claude mulai menjadi alternatif mesin pencari tradisional.
Pengguna kini dapat memperoleh jawaban langsung melalui layanan AI tanpa harus membuka sejumlah tautan situs web seperti pada mekanisme pencarian Google sebelumnya.
Perubahan ini berpotensi mengurangi jumlah klik terhadap tautan yang menampilkan iklan. Padahal, iklan pada mesin pencari menjadi salah satu tulang punggung bisnis Alphabet, perusahaan induk Google.
Analis Emarketer Nate Elliott menilai perkembangan AI dapat menjadi tantangan serius bagi bisnis pencarian Google. Jika pengguna mulai beralih ke layanan AI lain untuk menemukan informasi, kebiasaan menggunakan mesin pencari yang selama ini dominan bisa berubah.
Di sisi lain, Google sebenarnya juga terus mengembangkan teknologi AI untuk memperkuat bisnis periklanannya. Perusahaan mulai mengintegrasikan model Gemini ke dalam infrastruktur periklanan guna meningkatkan kualitas iklan dan membantu pengiklan.
Google juga memiliki bisnis komputasi awan atau Google Cloud yang mencatat pertumbuhan signifikan. Pada kuartal III 2026, pendapatan Google Cloud tumbuh lebih dari 100 persen menjadi sekitar 31 miliar dolar AS.
Sementara itu, Meta juga tengah mengembangkan sumber pendapatan baru melalui investasi pada model AI dan agen digital. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap bisnis iklan yang selama ini menjadi sumber pendapatan utamanya.
Persaingan kedua perusahaan menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak hanya berkaitan dengan inovasi teknologi, tetapi juga perubahan model bisnis perusahaan digital.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana investasi besar-besaran pada infrastruktur AI dapat menghasilkan pendapatan yang sebanding. Sebab, baik Google maupun Meta kini menghadapi tekanan untuk membuktikan bahwa belanja teknologi AI mampu memberikan keuntungan bisnis dalam jangka panjang.
Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20261102100630-37-781424/sumber-duit-google-makin-seret-ketika-instagram-panen-cuan-ai