Begini Ma Huan Menggambarkan Tuban 600 Tahun Lalu
Halaman Ying-yai Sheng-lan, catatan perjalanan Ma Huan pada masa Dinasti Ming. Dalam karya inilah Ma Huan mencatat kondisi Tu-pan atau Tuban.

Editor: Edy Purnomo

TUBAN, blokTuban.com — Seperti apa Tuban sekitar 600 tahun lalu?

Salah satu gambaran tertulis datang dari Ma Huan, seorang Muslim asal China yang mengikuti pelayaran armada Cheng Ho (Zheng He) ke Jawa pada masa Dinasti Ming.

Dalam buku perjalanannya, Ying-yai Sheng-lan (瀛涯勝覽), Ma Huan menyebut Tuban dengan nama Tu-pan.

Catatannya tentang Tuban cukup singkat, tetapi memuat sejumlah informasi mengenai penduduk dan kondisi wilayah tersebut pada awal abad ke-15.

Lebih dari 1.000 keluarga

Ma Huan menulis bahwa Tu-pan memiliki lebih dari 1.000 keluarga.

Wilayah tersebut diperintah oleh dua orang kepala.

Naskah ini juga mencatat adanya penduduk yang berasal dari Kuang-tung (Guangdong) dan Chang-chou, wilayah di China, yang telah datang dan menetap di Tu-pan.

Dalam terjemahan bahasa Indonesia, bagian tersebut dapat dipahami sebagai:

“Tu-pan memiliki lebih dari 1.000 keluarga. Ada dua kepala yang memerintah mereka. Banyak penduduknya berasal dari Kuang-tung dan Chang-chou di Negeri Tengah, yang telah datang dan menetap di tempat ini.”

Ma Huan juga mencatat harga sejumlah bahan makanan.

“Ayam, kambing, ikan, dan sayuran sangat murah.”

Kisah “Air Suci”

Catatan Ma Huan juga memuat cerita mengenai sebuah sumber air yang disebut “Air Suci” (Holy Water).

Dia menggambarkan adanya sebuah kolam kecil berisi air tawar di sebuah gosong pasir di laut. Air tersebut dapat diminum.

Ma Huan kemudian menghubungkannya dengan kisah ekspedisi pasukan Dinasti Yuan ke Jawa.

Menurut cerita yang dicatatnya, para jenderal Shih Pi dan Kao Hsing pernah memimpin pasukan ke Jawa. Dalam perjalanan, pasukan tersebut mengalami kesulitan mendapatkan air.

Mereka kemudian berdoa meminta sumber air. Setelah itu, sebuah tombak ditancapkan ke gosong pasir. Dari tempat tersebut, menurut kisah yang dicatat Ma Huan, muncul mata air tawar.

Ma Huan menyebut bahwa sumber air tersebut masih ada pada zamannya.

Tuban dalam perjalanan menuju Majapahit

Dalam bagian lain tentang Jawa, Ma Huan menyebut Tu-pan sebagai tempat kedatangan kapal-kapal dari berbagai negeri sebelum perjalanan dilanjutkan menuju wilayah lain di Jawa.

Setelah Tu-pan, ia menyebut New Village (Gresik), kemudian Su-lu-ma-i (Surabaya), dan selanjutnya Man-che-po-i (Majapahit), tempat raja tinggal.

Catatan tersebut memberikan gambaran tentang Tuban pada awal abad ke-15 berdasarkan kesaksian seorang pelancong yang datang ke Jawa pada masa Dinasti Ming.

Tuban yang dicatat Ma Huan memiliki lebih dari 1.000 keluarga, diperintah dua kepala, dihuni antara lain oleh pendatang dari China, serta memiliki ketersediaan bahan pangan yang menurutnya murah.

Sumber dan catatan penerjemahan

Tulisan ini menggunakan Ma Huan, Ying-yai Sheng-lan sebagai sumber utama.

Salah satu rujukan penting yang digunakan adalah terjemahan dan edisi akademik:

Mills, J. V. G. (1970). Ying-yai Sheng-lan: “The Overall Survey of the Ocean’s Shores” [1433], by Ma Huan. Cambridge University Press.

Teks digital yang digunakan untuk membantu penelusuran dapat diakses melalui reproduksi digital Ying-yai Sheng-lan yang tersedia di University of Washington.

Catatan redaksi: Terjemahan kutipan berbahasa Indonesia dalam artikel ini dibantu oleh teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan merujuk pada teks dan terjemahan akademik yang tersedia. Terjemahan tersebut bukan terjemahan resmi dari naskah asli. Karena terdapat perbedaan transliterasi nama tempat, istilah, serta kemungkinan perbedaan makna ketika teks China abad ke-15 diterjemahkan ke bahasa modern, kemungkinan terdapat kekeliruan atau nuansa makna yang belum sepenuhnya tepat. Pembaca dapat merujuk pada edisi akademik Ying-yai Sheng-lan untuk melihat teks dan terjemahan sumber secara lebih lengkap.

Artikel ini menggunakan AI sebagai alat bantu membaca dan menerjemahkan sumber, bukan sebagai pengganti sumber sejarah.