AI, Manusia, dan Technology for Humanity
Ilustrasi by AI/bloktuban

Penulis: Edy Purnomo*

blokTuban.com - Perkembangan teknologi digital mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menjalankan aktivitas ekonomi. Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat perubahan itu berlangsung semakin cepat. Berbagai pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu singkat, informasi lebih mudah diperoleh, dan peluang baru terbuka bagi siapa saja yang mampu memanfaatkannya.

Namun, di tengah berbagai kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah perkembangan teknologi selalu membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik?

Pertanyaan ini semakin relevan ketika AI mulai digunakan dalam dunia pendidikan. Teknologi yang mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik membuka peluang baru dalam proses belajar. Pada saat yang sama, muncul kekhawatiran bahwa kemudahan tersebut dapat membuat anak terlalu bergantung pada mesin dan kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikirnya sendiri.

Kegelisahan ini perlu dibicarakan secara terbuka. Bukan untuk menolak kemajuan teknologi, melainkan untuk memastikan bahwa manusia tetap memiliki kendali atas arah penggunaannya.

Di sinilah gagasan Technology for Humanity menjadi penting. Teknologi perlu dikembangkan dan digunakan dengan mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan, dan kehidupan manusia. Bukan sebaliknya, manusia terus-menerus dituntut menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi tanpa sempat mempertanyakan tujuan dan dampaknya.

AI, Kemudahan, dan Kekhawatiran tentang Cara Anak Berpikir

Kehadiran AI membawa perubahan besar dalam cara manusia memperoleh dan mengolah informasi. Pelajar kini dapat meminta AI menjelaskan materi pelajaran, merangkum bacaan, menyusun tulisan, hingga membantu menyelesaikan soal.

Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup panjang dapat dilakukan dalam hitungan detik.

Bagi dunia pendidikan, kemudahan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan.

AI dapat membantu siswa memahami materi yang sulit, memperoleh penjelasan alternatif, dan mengeksplorasi pengetahuan di luar ruang kelas. Bagi siswa yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber belajar, teknologi ini juga berpotensi membuka kesempatan baru.

Namun, ada persoalan yang perlu diperhatikan. Ketika jawaban semakin mudah diperoleh, apakah anak masih memiliki kesempatan dan kemauan untuk menjalani proses berpikir yang diperlukan untuk menemukan jawaban tersebut?

Bayangkan seorang pelajar yang mendapatkan tugas menulis. Ia dapat membaca berbagai referensi, menyusun kerangka, membangun argumentasi, dan memperbaiki tulisannya sendiri. Proses itu membutuhkan waktu, tetapi juga melatih pemahaman, penalaran, dan kemampuan menyampaikan gagasan.

Dengan bantuan AI, tugas yang sama mungkin dapat diselesaikan jauh lebih cepat. Pelajar cukup memberikan instruksi, menerima hasil, lalu mengumpulkannya.

Kedua proses tersebut bisa menghasilkan tulisan yang terlihat sama-sama baik. Namun, pengalaman belajar di baliknya belum tentu sama.

Persoalannya bukan sekadar apakah AI mampu menghasilkan jawaban yang benar. Persoalan yang lebih mendasar adalah apakah anak memahami jawaban tersebut, mampu menilai kebenarannya, dan dapat menjelaskan alasan di balik kesimpulan yang diambil.

Jika teknologi digunakan untuk menggantikan seluruh proses belajar, anak berisiko kehilangan kesempatan melatih kemampuan yang justru dibutuhkan ketika menghadapi persoalan yang lebih kompleks.

Meski demikian, penggunaan AI tidak serta-merta menurunkan kecerdasan anak. Dampaknya bergantung pada cara penggunaan, tujuan pembelajaran, dan pendampingan yang diberikan oleh orang tua maupun pendidik.

AI dapat membantu anak memahami konsep yang sulit, menguji argumen, menemukan kelemahan dalam suatu penjelasan, atau mengeksplorasi sudut pandang yang belum pernah dipikirkan sebelumnya.

Sebaliknya, AI juga dapat menjadi jalan pintas ketika anak hanya menggunakannya untuk memperoleh jawaban tanpa berusaha memahami persoalan.

Perbedaannya terletak pada bagaimana teknologi digunakan dalam proses belajar.

Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan anak cara menggunakan AI. Anak juga perlu belajar mengajukan pertanyaan, membaca secara mendalam, memeriksa sumber informasi, membangun argumentasi, dan mengambil kesimpulan berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika jawaban semakin mudah diperoleh, kemampuan untuk berpikir secara mandiri justru semakin penting.

Apakah Semua Kemudahan Membuat Manusia Lebih Baik?

Kekhawatiran terhadap AI membawa kita pada pertanyaan yang lebih luas: apakah setiap kemajuan teknologi selalu sejalan dengan kemajuan manusia?

Teknologi umumnya dikembangkan untuk membuat pekerjaan lebih cepat, mudah, dan efisien. Namun, efisiensi tidak selalu berarti manusia memperoleh manfaat yang lebih besar dalam segala hal.

Dalam pendidikan, menyelesaikan tugas lebih cepat tidak otomatis berarti memahami materi dengan lebih baik. Dalam dunia kerja, otomatisasi dapat meningkatkan produktivitas, tetapi perubahan yang sama juga dapat menuntut manusia mempelajari keterampilan baru dan menghadapi ketidakpastian pekerjaan.

Begitu pula dalam kehidupan masyarakat. Digitalisasi dapat memperluas akses informasi dan pelayanan. Namun, apabila dirancang tanpa memahami kondisi penggunanya, teknologi justru berpotensi menciptakan hambatan baru bagi kelompok yang tidak memiliki perangkat, koneksi internet, atau kemampuan digital yang memadai.

Artinya, persoalan teknologi tidak cukup dibahas dari sisi kemampuan teknisnya.

Kita juga perlu mempertimbangkan siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang berpotensi tertinggal, dan bagaimana penggunaannya memengaruhi kemampuan manusia untuk belajar, bekerja, mengambil keputusan, serta menjalani kehidupan.

Pertanyaan ini bukan ajakan untuk menolak AI atau menghentikan perkembangan teknologi. Menutup diri dari perubahan juga dapat membuat masyarakat kehilangan kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Yang diperlukan adalah kemampuan menentukan bagaimana teknologi digunakan, bagian mana yang layak dibantu oleh mesin, dan kemampuan manusia apa yang justru harus terus diperkuat.

Kita perlu memastikan bahwa kemudahan tidak menghilangkan kesempatan untuk memahami proses. Kecepatan tidak menghapus kebutuhan untuk memeriksa kebenaran. Dan otomatisasi tidak membuat tanggung jawab atas keputusan berpindah sepenuhnya kepada mesin.

Dari sinilah kita perlu membicarakan kembali tujuan teknologi.

Technology for Humanity sebagai Landasan Berpikir

Technology for Humanity bukan sekadar slogan yang menyatakan bahwa teknologi harus bermanfaat bagi manusia. Gagasan ini perlu menjadi landasan berpikir untuk menentukan arah pengembangan, pemanfaatan, dan evaluasi teknologi.

Landasan tersebut mengubah cara kita memulai pembicaraan.

Alih-alih langsung bertanya teknologi apa yang harus dikuasai, kita perlu bertanya terlebih dahulu: persoalan manusia apa yang ingin diselesaikan?

Alih-alih hanya mengejar efisiensi, kita perlu mempertimbangkan apakah efisiensi tersebut benar-benar memperbaiki keadaan.

Alih-alih menganggap setiap perkembangan teknologi sebagai sesuatu yang harus diikuti, kita perlu menilai apakah teknologi itu relevan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.

Ada empat pertanyaan mendasar yang dapat menjadi pijakan.

Pertama, persoalan manusia apa yang ingin dijawab? Teknologi seharusnya berangkat dari kebutuhan yang nyata, bukan semata-mata dari keinginan menggunakan perangkat baru.

Kedua, apakah teknologi merupakan solusi yang tepat? Tidak semua masalah membutuhkan aplikasi, otomatisasi, atau AI. Sebagian persoalan mungkin lebih membutuhkan pendampingan, perubahan tata kelola, akses pembiayaan, atau kerja sama antarmanusia.

Ketiga, siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang berpotensi tertinggal? Sebuah inovasi perlu dinilai berdasarkan dampaknya terhadap pengguna, termasuk kelompok yang memiliki keterbatasan akses.

Keempat, apakah manusia tetap memiliki kemampuan untuk memahami dan menentukan keputusan? Teknologi semestinya memperluas kemampuan manusia, bukan membuat manusia kehilangan kesempatan untuk berpikir dan bertanggung jawab.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu menempatkan teknologi sebagai sarana, bukan tujuan akhir.

Dalam bidang pendidikan, misalnya, persoalan rendahnya akses pembelajaran tidak otomatis selesai dengan menghadirkan platform digital. Kita perlu memahami apakah hambatan utamanya terletak pada keterbatasan perangkat, koneksi internet, kualitas pengajaran, kondisi ekonomi keluarga, atau kurangnya pendampingan.

Setiap persoalan membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Hal serupa berlaku pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Sebagian usaha mungkin membutuhkan pemasaran digital. Sebagian lainnya lebih membutuhkan pengelolaan keuangan yang lebih baik, akses pasar, atau pemahaman terhadap kebutuhan konsumen.

Teknologi dapat menjadi bagian dari solusi, tetapi tidak selalu menjadi satu-satunya jawaban.

Dengan demikian, Technology for Humanity bukan berarti teknologi harus selalu mengikuti keinginan manusia tanpa mempertimbangkan aspek lainnya. Gagasan ini mengajak kita menempatkan kebutuhan, martabat, kemampuan, dan dampak terhadap kehidupan manusia sebagai pertimbangan utama dalam menentukan arah pemanfaatan teknologi.

Manusia Harus Tetap Menjadi Subjek

Ada satu hal mendasar yang perlu dijaga ketika teknologi semakin terintegrasi dalam kehidupan: posisi manusia dalam menentukan arah perubahan.

AI dapat membantu mengolah informasi, menemukan pola, menyusun alternatif, dan mempercepat pekerjaan. Namun, manusia tetap perlu memahami konteks, menilai konsekuensi, mempertimbangkan nilai, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.

Kemampuan tersebut tidak dapat diabaikan hanya karena sebagian pekerjaan dapat diselesaikan secara otomatis.

Dalam pendidikan, keberhasilan belajar tidak cukup diukur dari seberapa cepat siswa menghasilkan jawaban yang benar. Proses memahami persoalan, menyusun alasan, menguji dugaan, dan memperbaiki kesalahan juga merupakan bagian penting dari pembelajaran.

Dalam dunia kerja, penguasaan perangkat digital memang dibutuhkan. Namun, kemampuan memahami kebutuhan orang lain, bekerja sama, membaca situasi, dan mengambil keputusan tetap menjadi bagian penting dari kompetensi manusia.

Karena itu, tantangan pendidikan dan pengembangan talenta digital bukan sekadar menyiapkan manusia agar mampu mengikuti perkembangan teknologi. Tantangannya adalah membangun manusia yang mampu menggunakan pengetahuan dan teknologi secara sadar, kritis, dan bertanggung jawab.

Manusia tidak seharusnya hanya menjadi pengguna yang mengikuti kemampuan teknologi. Manusia juga perlu menjadi pihak yang menentukan kapan, mengapa, dan untuk tujuan apa teknologi digunakan.

Dari Mengikuti Teknologi Menjadi Memahami Persoalan

Cara pandang Technology for Humanity membawa konsekuensi terhadap cara kita mempersiapkan generasi muda.

Pembicaraan tentang talenta digital sering berpusat pada keterampilan teknis, seperti pemrograman, desain, produksi konten, pemasaran digital, analisis data, dan pemanfaatan AI.

Keterampilan tersebut penting. Namun, penguasaan perangkat saja tidak otomatis membuat seseorang mampu menghasilkan solusi yang bermanfaat.

Seseorang dapat mahir membuat aplikasi, tetapi belum tentu memahami masalah yang hendak diselesaikan. Seseorang dapat menggunakan AI untuk menghasilkan banyak konten, tetapi belum tentu mampu memastikan informasi tersebut benar dan dibutuhkan masyarakat.

Karena itu, pengembangan talenta perlu memberi ruang bagi generasi muda untuk mengenali persoalan di sekitarnya, mengumpulkan informasi, berdiskusi dengan pihak yang terdampak, dan menyusun alternatif penyelesaian.

Mereka perlu belajar bukan hanya bagaimana membuat sesuatu, tetapi juga mengapa sesuatu itu perlu dibuat.

Lingkungan sekolah, desa, tempat usaha, ruang publik, dan komunitas dapat menjadi ruang belajar yang nyata. Generasi muda bisa mempelajari persoalan yang mereka temui, menguji gagasan, dan menentukan apakah teknologi dapat membantu menyelesaikannya.

Dengan cara ini, teknologi tidak lagi dipelajari semata-mata sebagai kumpulan perangkat dan keterampilan. Teknologi menjadi salah satu pilihan untuk menjawab kebutuhan manusia.

Menyiapkan Masa Depan Digital dari Tuban

Kabupaten Tuban memiliki generasi muda dengan latar belakang dan potensi yang beragam. Mereka tersebar di SMK, SMA, perguruan tinggi, pesantren, dan berbagai komunitas.

Sebagian memiliki kemampuan teknis. Sebagian lainnya memiliki pengetahuan tentang lingkungan, usaha, pendidikan, budaya, atau persoalan sosial di sekitarnya.

Potensi tersebut akan lebih berarti ketika pengetahuan dan keterampilan mereka dipertemukan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Di sinilah pentingnya membangun ekosistem yang tidak hanya mengajarkan keterampilan digital, tetapi juga menyediakan ruang untuk berkolaborasi, menguji gagasan, dan menghasilkan solusi.

Landasan berpikirnya perlu jelas: teknologi digunakan untuk memperluas kesempatan manusia, bukan sekadar mengikuti tren. Inovasi dinilai dari manfaatnya, bukan hanya dari kecanggihan perangkat yang digunakan.

Pertanyaan utamanya bukan sekadar seberapa jauh generasi muda Tuban mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah seberapa jauh pengetahuan dan teknologi dapat membantu mereka memahami persoalan, mengambil keputusan, dan memperbaiki kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Gagasan Technology for Humanity berangkat dari pertanyaan tersebut. Manusia tetap menjadi titik awal sekaligus tujuan dari setiap upaya pengembangan teknologi.

Perspektif inilah yang perlu menjadi dasar pengembangan talenta digital di Tuban. Bukan hanya bagaimana mencetak generasi yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana membangun generasi yang memahami untuk apa teknologi digunakan.

Gagasan itu membutuhkan ruang belajar, jaringan kolaborasi, dan kesempatan untuk bekerja bersama menghadapi persoalan nyata.

Bagaimana gagasan tersebut dapat diterapkan dalam pengembangan talenta digital di daerah? Salah satu pendekatan yang dapat dijajaki adalah membangun Tuban Talent Hub sebagai ruang yang mempertemukan generasi muda, pengetahuan, jaringan, dan kebutuhan masyarakat.

Sebab, masa depan digital tidak cukup dibangun dengan membuat manusia semakin mahir menggunakan teknologi. Masa depan itu juga membutuhkan manusia yang mampu menentukan arah penggunaannya.

*Edy Purnomo, Direktur blokTuban.com, inisiator Tuban Digital Forum dan pegiat di lembaga riset satuSTRIP.