September Bergerak, PMII Tuban Gelar Aksi Diam Tolak Pembungkaman Suara Kritis

Reporter: Dhahrul Mustaqim

blokTuban.com - Demokrasi kembali mempertontonkan wajah buramnya. Praktik pembungkaman terhadap suara kritis yang sejatinya dijamin oleh konstitusi, hingga kini dinilai masih langgeng terjadi dan merampas hak-hak dasar masyarakat oleh negara, bahkan hingga ke tingkat lokal.

Menanggapi realitas kelam tersebut, Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tuban menggelar aksi simbolik bertajuk September Bergerak di depan Gedung Pemerintahan Kabupaten Tuban, Jumat (18/09/2026). Aksi ini digelar sebagai bentuk penolakan terhadap lupa atas sejarah kelam masa lalu sekaligus perlawanan atas pembungkaman yang masih berlangsung.

Pilihan aksi diam yang diusung mahasiswa menjadi bentuk protes yang menggugah nurani. Melalui poster para korban yang dibungkam, teatrikal tabur bunga, nyala lilin, dan doa bersama, aksi ini bertindak sebagai cermin retak bagi penguasa menggambarkan bagaimana warga negara yang paling nyaring menyuarakan kebenaran kerap kali dipaksa berakhir dalam kesunyian yang tragis oleh negaranya sendiri.

Ketua PC PMII Tuban, Roviq Wahyudin, menegaskan bahwa pilihan untuk membisu dalam aksi tersebut merupakan simbol perlawanan atas absurdnya ruang publik saat ini.

 "Aksi diam ini bukan berarti kita tidak berani bersuara, tetapi ini bentuk kekecewaan kita terhadap negara. Masyarakat yang paling lantang bersuara tentang kebenaran justru dibungkam," tegasnya.

Kritik tajam dalam aksi ini tidak berhenti pada jargon HAM semata, melainkan menarik benang merah yang jelas antara penindasan suara kritis dengan ketidakhadiran negara dalam melindungi hak hidup warganya. Hal ini tercermin dari sorotan PC PMII Tuban mengenai buruknya layanan dasar di daerah.

Koordinator Advokasi HAM dan Lingkungan Hidup PC PMII Tuban, Rangga Bagos Madani, menyoroti penanganan layanan kesehatan di Kabupaten Tuban yang lambat dan terus-menerus memakan korban jiwa sebagai cerminan dari abainya negara.

"Teatrikal tabur bunga dan doa bersama ini adalah bentuk duka mendalam bagi korban yang dibungkam oleh negaranya sendiri. Lambatnya layanan kesehatan yang berulang kali menelan korban jiwa menjadi bukti nyata bahwa negara belum hadir sepenuhnya dalam melindungi hak dasar warganya, bahkan ketika nyawa menjadi taruhannya," jelasnya.

Rangkaian aksi yang turut diisi dengan lapak baca, pasar rakyat, serta cek kesehatan gratis ini mempertegas pesan utama: ketika negara gagap memberikan perlindungan dan membungkam kritik, masyarakat sipil memilih untuk hadir mengambil peran. September Bergerak menjadi panggilan nurani sekaligus alarm keras bahwa kebenaran tidak boleh dibungkam, dan keadilan tidak boleh dibiarkan mati dalam kesunyian.