Penulis: Andhika Fatchur Widyanto
blokTuban.com - Desa Boto, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, menyimpan beragam potensi yang menjadi modal penting dalam pembangunan berbasis masyarakat. Mulai dari potensi wisata, kekayaan sejarah, kearifan lokal, sektor pertanian, hingga jejaring pendidikan keagamaan, seluruh aset tersebut menjadi fokus pemetaan awal melalui pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD). Pendekatan ini menempatkan kekuatan yang telah dimiliki masyarakat sebagai pijakan utama dalam menyusun program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa Desa Boto memiliki potensi wisata Banyu Langse yang dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), situs bersejarah Makam Buyut Bambang yang dikenal sebagai makam Bupati Tuban ke-22, serta berbagai kearifan lokal seperti tradisi Sedekah Bumi, batik, wayang, kuliner legen, hingga cerita rakyat Putri Banyu Langse. Selain itu, desa yang berada di kawasan perbukitan ini juga didominasi masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani dengan komoditas unggulan jagung dan siwalan.
Tidak hanya memiliki kekayaan alam dan budaya, Desa Boto juga didukung oleh aset sosial yang kuat. Berdasarkan hasil survei lapangan, desa ini memiliki lembaga pendidikan formal yang terdiri atas satu PAUD, satu TK, dan satu SD. Di bidang pendidikan keagamaan terdapat tiga Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) serta dua Madrasah Diniyah yang aktif menjadi pusat pembinaan generasi muda. Sementara pada sektor ekonomi masyarakat, sedikitnya terdapat sepuluh home industry, sepuluh toko kelontong, sembilan warung makan, dan satu minimarket yang menjadi bagian dari aktivitas perekonomian desa.
Proses pemetaan aset tersebut diawali dengan pembukaan kegiatan pada Senin (07/07/2026) di Balai Desa Boto yang dihadiri oleh Kepala Desa Boto Bapak Handoko Mulyo Utomo, Dosen Pembimbing Lapangan Ibu Ummidlatus Salamah, S.S., M.Pd., perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga. Dalam sambutannya, Kepala Desa menyampaikan harapan agar kolaborasi yang dibangun mampu memperkuat potensi yang telah dimiliki masyarakat.
"Mahasiswa yang melaksanakan pengabdian diharapkan bisa berkolaborasi, bekerja sama, dan saling melengkapi agar mampu memberikan dampak yang berkelanjutan di Desa Boto, khususnya menjadi jembatan bagi warga yang memiliki keterampilan dan potensi sehingga dapat berkembang lebih optimal," ujar Handoko Mulyo Utomo.
Sebagai tindak lanjut, pada 8–9 Juli 2026 dilakukan silaturahmi kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat desa, pengelola lembaga pendidikan, serta berbagai elemen masyarakat. Kegiatan ini menjadi ruang dialog untuk mengenali karakter sosial desa sekaligus menghimpun aspirasi masyarakat mengenai arah pengembangan Desa Boto di masa mendatang.
Penggalian sejarah desa juga dilakukan melalui wawancara bersama Bapak Warsiono. Dari diskusi tersebut diperoleh berbagai informasi mengenai perjalanan sejarah Desa Boto, perkembangan masyarakat, serta nilai-nilai budaya yang hingga kini masih dijaga. Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam memahami identitas desa sebagai dasar penyusunan program yang sesuai dengan karakter masyarakat.
Selain itu, koordinasi dilakukan bersama Pokdarwis selaku pengelola wisata Banyu Langse. Diskusi yang berlangsung di kediaman pengurus Pokdarwis membahas potensi wisata yang telah berkembang, tantangan pengelolaan, serta peluang kolaborasi dalam memperkuat sektor pariwisata berbasis masyarakat. Hasil koordinasi ini menjadi salah satu pijakan dalam melihat peluang pengembangan ekonomi lokal melalui sektor wisata.
Pendekatan ABCD juga mendorong mahasiswa untuk tidak hanya melakukan observasi, tetapi terlibat dalam dialog bersama masyarakat. Berbagai harapan, gagasan, dan usulan warga dihimpun sebagai bagian dari proses pemetaan aset sehingga program yang akan dilaksanakan benar-benar lahir dari kebutuhan sekaligus kekuatan yang telah dimiliki Desa Boto.
Ketua Kelompok 05, Andhika Fatchur Widyanto, menegaskan bahwa seluruh proses tersebut merupakan implementasi pendekatan ABCD yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan.
"Karena pengabdian ini menggunakan pendekatan ABCD, kami bersama teman-teman akan selalu berusaha mendampingi masyarakat untuk mengembangkan berbagai potensi yang telah dimiliki. Harapannya, ketika masa pengabdian telah selesai, program yang dirintis tetap dapat dijalankan dan terus berkembang bersama masyarakat," ungkapnya.
Melalui pemetaan aset yang komprehensif, penggalian sejarah desa, serta kolaborasi dengan pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan komunitas lokal, diharapkan potensi yang dimiliki Desa Boto dapat berkembang menjadi kekuatan bersama dalam mewujudkan pembangunan yang partisipatif dan berkelanjutan.
Pendekatan ABCD menjadi langkah awal untuk memastikan bahwa setiap program yang dijalankan tidak hanya menyelesaikan kebutuhan jangka pendek, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola aset yang dimiliki demi kemajuan Desa Boto.
*Penulis merupakan Mahasiswa KKN 05 ABCD Desa Boto.
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published