Investasi KEK Gresik Tembus Rp114,4 Triliun, Serap Puluhan Ribu Tenaga Kerja
Foto: Kawasan Ekonomi Khusus - JIIPE

Reporter: Edy Purnomo

blokIndonesia — Realisasi investasi kumulatif di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur, mencapai Rp114,4 triliun hingga Kuartal II 2026. Nilai tersebut menunjukkan besarnya aktivitas investasi di kawasan industri yang terintegrasi dengan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Kecamatan Manyar.

Berdasarkan lansiran TIMES Indonesia yang mengutip External Relation KEK Gresik, realisasi investasi di kawasan tersebut mencapai sekitar Rp114,4 triliun hingga Kuartal II 2026. Jika ditambah investasi sekitar Rp5 triliun yang masuk sebelum kawasan ditetapkan sebagai KEK, total investasi terkait kawasan tersebut mencapai sekitar Rp116 triliun.

Sementara itu, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat investasi pascapenetapan KEK Gresik meningkat lebih dari 1.900 persen dibandingkan periode sebelum kawasan tersebut berstatus KEK.

Dari sisi ketenagakerjaan, Kemenko Perekonomian mencatat KEK Gresik telah menyerap 45.860 tenaga kerja secara kumulatif hingga Triwulan I 2026. Pemerintah Kabupaten Gresik memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja di kawasan tersebut mencapai sekitar 200.000 orang pada 2036 seiring pengembangan kawasan industri.

Ekosistem industri di KEK Gresik juga terus berkembang. Berdasarkan data yang disampaikan External Relation KEK Gresik dan dilansir TIMES Indonesia, saat ini terdapat 33 industri di kawasan tersebut. Sebanyak 18 industri telah beroperasi, delapan industri sedang dalam proses pembangunan konstruksi, sedangkan tujuh lainnya masih dalam tahap pembangunan.

Salah satu industri strategis di kawasan tersebut adalah Smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Manyar. Berdasarkan keterangan Presiden Direktur PTFI Tony Wenas yang dilansir ANTARA, Smelter Manyar ditargetkan mulai berproduksi pada September 2026 setelah sebelumnya mengalami kendala pasokan konsentrat akibat insiden longsor di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), Papua, pada 8 September 2025.

Pada semester I 2026, kapasitas produksi tambang GBC berada di kisaran 50 persen dari kapasitas normal. PTFI memperkirakan Smelter Manyar akan mengolah sekitar 15 persen konsentrat tembaga dari GBC secara bertahap sepanjang 2026. PTFI juga menargetkan kapasitas produksi tambang GBC pulih menuju 100 persen pada akhir 2027.

Perkembangan industri tersebut juga berkaitan dengan tantangan pengelolaan lingkungan. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gresik, terdapat 685 perusahaan industri manufaktur skala menengah dan besar di Kabupaten Gresik pada 2025. Data tersebut merupakan jumlah industri di seluruh wilayah Kabupaten Gresik, bukan khusus di kawasan KEK.

Di tengah pertumbuhan industri tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik mendorong pelaku usaha memperkuat penerapan prinsip industri hijau atau Green Industry, termasuk efisiensi penggunaan sumber daya, pengendalian emisi, serta pengelolaan limbah yang berkelanjutan.

Perkembangan KEK Gresik dan JIIPE juga menjadi bagian dari dinamika industrialisasi kawasan pesisir utara Jawa Timur. Bagi wilayah sekitar seperti Tuban dan Lamongan, perkembangan tersebut membuka peluang keterhubungan dalam rantai pasok, kebutuhan tenaga kerja, pengembangan talenta, serta penguatan pendidikan vokasi.